Di tengah konsumsi beras nasional yang mencapai 92,1 kilogram per kapita per tahun, Indonesia berada di persimpangan penting: menjaga ketahanan pangan atau terjebak dalam krisis sistemik yang tak berkesudahan.
Forum on Indonesia Sustainable Rice (FISR) 2025 yang berlangsung di Solo pada 29 Juli lalu menyajikan satu kenyataan penting.
Sistem perberasan Indonesia harus direformasi secara menyeluruh – bukan hanya dari sisi produksi, tetapi juga dalam prinsip keberlanjutan dan keadilan untuk petani.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Ketahanan pangan nasional tak akan terwujud tanpa stabilitas sektor perberasan,” tegas Andriko Noto Susanto, Deputi Bidang Penganekaragaman Konsumsi dan Keamanan Pangan Badan Pangan Nasional (Bapanas).
Andriko Noto Susanto, membuka diskusi yang dipenuhi kalangan birokrat, pengusaha, aktivis, hingga mitra internasional.
Di balik urgensi tersebut, data dari Climate Transparency Report 2022 menyajikan paradoks. Sebanyak 43% emisi dari sektor pertanian Indonesia berasal dari lahan sawah – menjadikan beras sebagai komoditas strategis sekaligus problematik dari sisi lingkungan.
Kebijakan Perberasan: Dari HPP, Pupuk hingga Modernisasi Teknologi ala Petani Kecil
Mengandalkan lebih dari 90% produksi padi dari petani kecil dengan lahan di bawah 0,8 hektare, wajah pertanian Indonesia masih menggantung pada kebijakan intervensi negara yang efektif dan sensitif terhadap struktur agraria.
Salah satu kebijakan krusial adalah penyesuaian Harga Pembelian Pemerintah (HPP) gabah menjadi Rp6.500/kg, sebuah angka yang menurut Andriko “telah memicu peningkatan semangat tanam dan pendapatan petani.”
Data BPS mencatat peningkatan produksi beras nasional mencapai 24,95 juta ton dalam periode Januari–Agustus 2025 – didorong oleh serangkaian strategi seperti revitalisasi irigasi, perbaikan distribusi benih, serta peningkatan subsidi pupuk dari 4 juta menjadi 9 juta ton.
Tak hanya itu, pemerintah juga menyederhanakan mekanisme penebusan pupuk agar lebih tepat sasaran – sebuah langkah yang menurut petani di lapangan “telah lama ditunggu dan akhirnya direspons negara.”
Baca Juga:
ULM Buka Enam Program Dokter Spesialis, Jawab Kebutuhan Kesehatan Masyarakat Kalimantan
GAC AION V Memenuhi Kebutuhan Mobil Listrik Murni di Nordik dengan Keunggulan Multidimensi
Badan Urusan Logistik (BULOG) diproyeksikan menyerap hingga 3 juta ton beras dari dalam negeri, sekaligus memastikan cadangan beras pemerintah (CBP) tetap stabil di angka 1,5–2 juta ton.
“Negara hadir melalui intervensi harga, input produksi, serta akses terhadap teknologi dan informasi,” tegas Andriko.
Emisi, Food Loss, dan Teknologi: Tantangan Baru di Lumbung Lama
Transformasi sistem pangan bukan hanya soal hasil panen, tetapi juga bagaimana prosesnya berdampak terhadap lingkungan dan iklim global.
Pertanian padi, khususnya di lahan sawah konvensional, menghasilkan emisi metana yang tinggi. Ironisnya, berdasarkan studi internal Bapanas dan konsorsium akademisi, kontributor emisi paling besar berasal dari metode pengairan yang tidak efisien dan penggunaan pupuk berlebih.
Andriko menekankan pentingnya adopsi teknologi dalam menekan food loss yang masih menyentuh angka 13,2%, sekaligus membuka jalan menuju pertanian presisi.
“Modernisasi melalui drone, sensor tanah, citra satelit, dan alsintan presisi adalah keniscayaan, bukan pilihan,” ujarnya.
Baca Juga:
Yili Group Mengawali 2026 dengan Menggelar Konferensi Bersama Mitra Bisnis di Asia Tenggara
Kebijakan berbasis teknologi ini juga menjadi bagian dari upaya pemerintah menyeimbangkan tiga pilar utama: produktivitas, keadilan, dan keberlanjutan.
Namun tantangannya bukan teknologi itu sendiri, melainkan bagaimana membuatnya terjangkau dan adaptif terhadap realitas petani kecil yang selama ini menjadi tulang punggung produksi padi nasional.
Relevansi Panca Usaha Tani dan Diplomasi Global untuk Pertanian Rendah Emisi
Meski pertama kali diperkenalkan pada era Orde Baru, pendekatan Panca Usaha Tani kini mendapatkan makna baru: bukan sekadar intensifikasi, tetapi juga fondasi dalam membangun pertanian yang berkelanjutan dan inklusif.
“Lima prinsip dasar – bibit unggul, pengolahan tanah, pemupukan, pengendalian hama, dan pengairan – tetap relevan jika dikawinkan dengan teknologi rendah emisi,” jelas Andriko.
Dari forum ini pula, terbaca komitmen kuat dari mitra internasional. Thibaut Portevin, Head of Cooperation Delegasi Uni Eropa untuk Indonesia dan Brunei Darussalam, menekankan pentingnya sinergi lintas negara dalam mendorong pertanian yang ramah lingkungan.
“Pertanian rendah emisi bukan hanya baik untuk iklim, tetapi juga menyentuh langsung kesejahteraan petani dan ketahanan pangan,“ kata Portevin yang menyuarakan dukungan Uni Eropa melalui program SWITCHAsia Grants.
Sebagai informasi tambahan, FISR 2025 digagas oleh konsorsium pelaksana Proyek Low Carbon Rice yang terdiri dari Preferred by Nature, Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan (KRKP), dan PERPADI, dengan dukungan kuat dari komunitas sipil dan lembaga riset pertanian.
Bapanas Dorong Sinergi Lokal-Global demi Masa Depan Sektor Perberasan Indonesia
Forum ini bukan sekadar ajang seremoni. Di balik pertemuan itu, menguat harapan akan lahirnya tata kelola beras nasional yang berkeadilan, adaptif, dan selaras dengan tantangan iklim global.
“Bersama kita bisa memastikan bahwa sektor perberasan tetap produktif, tangguh, dan lestari,” tutup Andriko, seraya mengajak seluruh pihak memperkuat kolaborasi.
Pernyataan Andriko ini sejalan dengan visi Arief Prasetyo Adi, Kepala Bapanas, yang kerap menegaskan bahwa reformasi pangan tidak cukup hanya melalui kebijakan pemerintah, tetapi juga melalui komitmen lintas sektor: petani, pelaku usaha, akademisi, dan masyarakat sipil.
Masa depan pangan Indonesia tidak akan ditentukan oleh berapa banyak beras yang diproduksi hari ini, tetapi oleh seberapa adil, lestari, dan cerdas sistem yang menopangnya.***
Sempatkan untuk membaca berbagai berita dan informasi seputar ekonomi dan bisnis lainnya di media Infotelko.com dan Infoekonomi.com.
Simak juga berita dan informasi terkini mengenai politik, hukum, dan nasional melalui media 23jam.com dan Haiidn.com.
Informasi nasional dari pers daerah dapat dimonitor langsumg dari portal berita Hallotangsel.com dan Haisumatera.com.
Untuk mengikuti perkembangan berita nasional, bisinis dan internasional dalam bahasa Inggris, silahkan simak portal berita Indo24hours.com dan 01post.com.
Pastikan juga download aplikasi Hallo.id di Playstore (Android) dan Appstore (iphone), untuk mendapatkan aneka artikel yang menarik. Media Hallo.id dapat diakses melalui Google News. Terima kasih.
Kami juga melayani Jasa Siaran Pers atau publikasi press release di lebih dari 175an media, silahkan klik Persrilis.com
Sedangkan untuk publikasi press release serentak di media mainstream (media arus utama) atau Tier Pertama, silahkan klik Publikasi Media Mainstream.
Indonesia Media Circle (IMC) juga melayani kebutuhan untuk bulk order publications (ribuan link publikasi press release) untuk manajemen reputasi: kampanye, pemulihan nama baik, atau kepentingan lainnya.
Untuk informasi, dapat menghubungi WhatsApp Center Pusat Siaran Pers Indonesia (PSPI): 085315557788, 087815557788.
Dapatkan beragam berita dan informasi terkini dari berbagai portal berita melalui saluran WhatsApp Sapulangit Media Center














